Harga keramik naik sekitar 44 persen, besi 26 persen, semen 22 persen, batu bata 20 persen. Angka itu bukan perkiraan — itu data kenaikan harga material yang dihimpun DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumatera Utara sepanjang 2026. Rata-ratanya 14–15 persen, dan itu belum termasuk upah tukang yang naik 6–10 persen serta ongkos angkut yang ikut melambung. Bagi Anda yang berencana membangun atau merenovasi rumah dengan dana tunai sendiri, artinya sederhana: anggaran yang disusun tahun lalu sudah tidak berlaku lagi.
Data Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) memperkuat gambaran itu. Kelompok Bangunan Tempat Tinggal dan Bukan Tempat Tinggal mencatat inflasi 5,93 persen secara tahunan, jauh di atas inflasi nasional yang berada di level 2,42 persen. Harga material konstruksi memang bergerak lebih cepat daripada harga barang dan jasa umum. Kabar baiknya, kenaikan ini masih bisa dijinakkan dengan perencanaan yang rapi — asal tahu di mana uang paling cepat habis.
Dari mana lonjakan harga ini datang
Tenaga Ahli Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Harry Endang Kawidjaja, menyebut kenaikan biaya bangunan secara rata-rata mencapai sekitar 20 persen, dengan material alam seperti pasir dan batu melonjak paling ekstrem hingga 50 persen. Pemicunya berlapis: penutupan tambang bermasalah, moratorium galian C di Jawa Barat, kenaikan harga bahan bakar, hingga upah pekerja yang ikut naik.
Di Jawa Barat, moratorium pertambangan galian C membuat harga pasir dan batu melonjak 30–50 persen menurut Ketua DPD REI Jawa Barat, Norman Nurdjaman. Efeknya tidak berhenti di provinsi itu, karena pasokan material dari Jawa Barat juga menopang pembangunan di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Sejumlah pengembang bahkan mulai mendatangkan material dari Banten dan Cilegon, yang otomatis menambah biaya angkut.
Rincian kenaikan yang tercatat di lapangan:
- Keramik: sekitar 44 persen
- Besi: sekitar 26 persen
- Semen: sekitar 22 persen
- Batu bata: sekitar 20 persen
- Cat: sekitar 16 persen
- Gypsum: sekitar 12 persen
- Pasir, kerikil, tanah urug, tripleks: 6–7 persen (di beberapa daerah jauh lebih tinggi)
Enam langkah menyusun anggaran bangun rumah tunai
- Kunci desain dan volume pekerjaan sebelum mencari tukang. Perubahan gambar di tengah jalan adalah pemborosan termahal. Minta daftar volume material (biasa disebut BOQ) tertulis: berapa kubik pasir, berapa sak semen, berapa meter keramik. Tanpa angka volume, harga borongan sulit dibandingkan antarpenawaran.
- Minta harga material berlaku minimal 30 hari. Karena harga bergerak cepat, toko material sering memberi penawaran lisan yang berubah saat barang diambil. Minta penawaran tertulis dengan masa berlaku dan cantumkan di kontrak kerja.
- Pisahkan anggaran struktur dan finishing. Struktur (pondasi, kolom, balok, atap) tidak boleh dikompromikan. Yang paling fleksibel ditunda justru finishing: keramik, kusen, cat, dan ornamen. Keramik naik 44 persen — menunda pemasangan keramik enam bulan bisa menghemat porsi anggaran yang signifikan tanpa mengurangi keamanan bangunan.
- Belanja material bertahap mengikuti jadwal, jangan menimbun. Menimbun material di lokasi berisiko rusak, hilang, dan menyita ruang kerja. Kecuali untuk item yang pasokannya benar-benar langka di daerah Anda, beli sesuai kebutuhan tiap tahap.
- Sisakan dana kontingensi 10–15 persen. Dengan kenaikan material 14–20 persen setahun, kontingensi bukan kemewahan, melainkan pengaman. Jika tidak terpakai, dana itu bisa dialihkan ke pagar, kanopi, atau ditabung untuk tahap berikutnya.
- Hitung ongkos angkut dan bongkar muat sejak awal. Untuk pasir, batu, dan tanah urug, biaya angkut bisa menyamai harga bahannya sendiri jika lokasi proyek jauh dari sumber galian. Bandingkan harga sampai lokasi (bukan harga di tambang), lalu cek apakah ada penjual material terdekat yang lebih murah meski harga satuannya sedikit lebih tinggi.
Item yang paling cepat menggerus anggaran
Jika dana terbatas, urutan prioritasnya jelas. Keramik, besi, dan semen adalah tiga pos dengan lonjakan terbesar. Untuk besi dan semen, jangan mencari yang termurah — keduanya menentukan kekuatan struktur, dan penghematan di sini berisiko mahal di kemudian hari. Sebaliknya, keramik, cat, dan gypsum bisa ditunda, diganti merek, atau dikurangi luas pemakaiannya.
Untuk renovasi, urutkan pekerjaan berdasarkan dampak: perbaiki dulu atap bocor, kelistrikan, dan sanitasi. Pekerjaan kosmetik seperti penggantian kusen atau pelapisan ulang cat bisa menunggu harga lebih stabil. Renovasi bertahap per ruang juga membuat pengeluaran lebih terkendali dibanding mengerjakan seluruh rumah sekaligus.
Kapan sebaiknya menunda, kapan tetap jalan
Pelaku pasar sendiri sedang menahan diri. Norman Nurdjaman menyebut banyak pengembang memilih menunggu dan melihat perkembangan harga. Bagi pembeli tanah yang berencana membangun, menahan lahan sejenak sambil memantau harga material adalah pilihan yang wajar — asalkan lahan sudah bersertifikat dan bebas sengketa.
Sebaliknya, jika rumah yang Anda bangun atau renovasi sudah dibutuhkan untuk ditinggali, menunda terlalu lama juga berbiaya: harga upah dan material cenderung tidak kembali turun, sementara biaya sewa tempat tinggal sementara tetap berjalan. Yang paling masuk akal adalah membangun dengan cakupan yang bisa diselesaikan tuntas, lalu menambah tahap berikutnya saat dana tersedia.
Sebelum menandatangani kontrak dengan pemborong, pastikan ada kesepakatan tertulis soal harga satuan material, jadwal pembayaran per tahap pekerjaan, dan cara menghitung pekerjaan tambah-kurang. Semua itu melindungi Anda dari selisih biaya yang muncul di tengah proyek — persoalan yang tahun ini jauh lebih sering terjadi gara-gara harga material yang bergerak naik.
Sumber: IDN Times Sumut — Harga Material Naik Tajam; Economic Zone — Biaya Material Bangunan Melonjak; Tribun Jabar — REI Jabar Ingatkan Efek Domino


