Pasar properti Indonesia masih bergerak hati-hati sepanjang 2026. Survei Harga Properti Residensial (SHPR) triwulan II 2026 mencatat penjualan rumah di pasar primer masih terkontraksi 2,36 persen secara tahunan, sementara harga properti justru naik tipis 0,69 persen ke level indeks 110,89. Artinya, harga sulit turun, tetapi pembeli semakin selektif. Kabar baiknya, tren mulai membaik: secara kuartalan, penjualan triwulan II 2026 tumbuh 9,39 persen. Di tengah kondisi seperti ini, sekadar memasang iklan lalu menunggu pembeli tidak lagi cukup. Berikut strategi praktis agar properti Anda lebih cepat terjual.
Kenapa rumah susah laku sekarang?
Ada beberapa hal yang membuat rumah perseorangan sulit menemukan pembeli:
- Pembeli cenderung menunggu harga turun. Sebuah catatan di Mojok.com menggambarkan pasar yang saling menunggu: penjual menunggu pembeli, pembeli menunggu harga turun. Tak jarang rumah baru laku setelah dipasarkan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
- Daya beli melemah dan biaya bangun naik. Pengembang mengakui pelemahan daya beli, terutama segmen menengah, dan kenaikan biaya material ikut menekan pasar. Survei SHPR menempatkan kenaikan harga bahan bangunan sebagai hambatan terbesar pengembang, dengan proporsi 27,10 persen.
- Pembeli makin teliti soal dokumen. Maraknya kasus sertifikat bermasalah membuat calon pembeli semakin selektif mengecek legalitas, sehingga rumah dengan dokumen kurang rapi cenderung dilewati.
1. Tetapkan harga yang realistis
Harga yang terlalu tinggi membuat listing rumah menggantung lama tanpa pembeli. Riset dulu harga rumah sejenis di sekitar lokasi lewat portal properti: bandingkan luas tanah, luas bangunan, dan kondisi rumah. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) pada PBB bisa menjadi acuan minimum, dan umumnya rumah dijual dua hingga tiga kali NJOP, tergantung seberapa strategis lokasinya. Setelah itu, pasang harga sekitar 5 sampai 10 persen di atas angka ideal Anda agar masih ada ruang negosiasi.
2. Rapikan rumah sebelum dipasarkan
Kesan pertama menentukan, karena calon pembeli biasanya membentuk penilaian dalam beberapa menit pertama saat melihat rumah.
- Singkirkan barang yang tidak perlu dan bersihkan rumah menyeluruh agar ruangan terasa lebih lega.
- Perbaiki kerusakan kecil: keran bocor, lampu mati, atau dinding kusam yang perlu dicat ulang.
- Tangani dulu bagian yang menurunkan nilai jual, seperti atap bocor atau tembok berlumut, sebelum memasang iklan.
- Rapikan tampak depan, taman, pagar, dan fasad, karena daya tarik dari luar menentukan minat orang melihat lebih dekat.
3. Siapkan dokumen legal sejak awal
Transaksi berpindah lebih cepat jika dokumen lengkap sejak awal. Kumpulkan semuanya dalam satu map: sertifikat hak atas tanah (SHM/SHGB), izin bangunan (IMB/PBG), bukti pembayaran PBB lima tahun terakhir, bukti tagihan listrik dan air terakhir, serta KTP dan KK pemilik yang namanya tertera di sertifikat. Transparansi dokumen membangun kepercayaan pembeli sekaligus memperlancar proses di hadapan notaris/PPAT, dari Akta Jual Beli sampai balik nama.
4. Pasarkan dengan konten yang menjual
Di era digital, tampilan visual adalah penentu. Perhatikan langkah berikut:
- Ambil foto berkualitas tinggi dengan pencahayaan alami (pagi atau sore) dari berbagai sudut di setiap ruangan penting.
- Buat video tur singkat yang menunjukkan alur ruangan agar calon pembeli mendapat gambaran nyata.
- Tulis deskripsi yang menonjolkan keunggulan: lokasi strategis, bebas banjir, siap huni, dekat stasiun, atau lingkungan asri.
- Sebarkan di beberapa kanal sekaligus: portal properti (Rumah123, Lamudi, OLX, 99.co), media sosial (Instagram, Facebook Marketplace, WhatsApp), dan grup komunitas di sekitar lokasi.
- Gelar open house pada hari libur agar calon pembeli bisa melihat langsung; siapkan brosur dan selalu responsif menjawab pertanyaan.
5. Manfaatkan agen, insentif, dan opsi sewa
Jika tidak punya banyak waktu, memakai jasa agen properti bisa mempercepat penjualan: mereka punya jaringan pembeli, membantu negosiasi, dan mengurus administrasi. Pilih agen dengan rekam jejak baik dan sepakati komisi sejak awal. Insentif ringan juga membantu menarik pembeli, misalnya bonus perabot, menanggung biaya balik nama dan notaris, atau potongan khusus untuk pembayaran tunai. Bila rumah belum juga laku, menyewakan sementara jauh lebih produktif daripada membiarkan properti kosong terus menguras biaya perawatan dan pajak.
Kesimpulan
Pasar properti 2026 memang menantang: penjualan masih melambat dan harga bergerak tipis. Namun rumah yang siap dari sisi harga, tampilan, dokumen, dan pemasaran tetap punya peluang lebih besar untuk cepat laku. Mulailah dari riset harga yang jujur, rapikan dan lengkapi properti Anda, lalu pasarkan secara konsisten di banyak kanal.
Sumber: KabarBursa.com; detik.com (Properti); Mojok.com; Brighton.co.id; Mitra10.com; detikSumut.


